Sabtu, 31 Januari 2009

Wax in the nOodLes: Fact or Hoax

Masih ingat isu adanya zat lilin (wax) dalam mie instant beberapa waktu lalu? Konon katanya juga zat-zat kimia di dalam mie instan baru dapat dibersihkan dari tubuh dalam 3 hari. Bener ga sih? Padahal mie instan sering banget kita konsumsi, terutama oleh anak kos. Mari dicermati ulang dan cari sumber-sumber yang bisa dipercaya.

Lilin termasuk dalam golongan lemak, minyak. Jika tercampur air, minyak akan mengapung karena berat jenisnya lebih rendah. Kalau betul begitu, harusnya di air rebusan mi instan ketika dimasak akan ‘mengapung’ lilin cair. Juga, di daftar komposisinya tidak dicantumkan apapun yang berkaitan dengan lilin.

Perlu diketahui bahwa pencantuman daftar komposisi dalam makanan kemasan tidak dilakukan sembarangan, apalagi mie instan merupakan produk yang telah lama mendapat izin Depkes yang berarti sudah ada jaminan keamanannya. Jika tuduhan itu berdasar (ada hasil analisis dari lab), maka dapat diajukan tuntutan pada para produsen mi instan karena membuat label yang tidak benar seperti halnya kasus susu ber-melamin.

Namun sebagaimana makanan instan produk industri lainnya, mie instan menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Pewarna, pengawet (o iya, mie instan merupakan makanan kering, jadi memang lebih tahan lama, apalagi dengan tambahan pengawet, yaitu Natrium benzoat yang diperbolehkan pemakaiannya), dan penyedap dalam bumbu, kecap, sambal, dan mie itu sendiri harus kita perhatikan. Banyak sumber yang mengatakan bahwa sekalipun aman, bahan-bahan kimia tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh bila terus menerus dikonsumsi dalam frekuensi sering dan dalam jangka waktu lama. Hal ini tentu akan mengganggu sistem metabolisme. Banyak juga laporan mengenai kekambuhan mag setelah mengkonsumsi mie instan.

Dari Informasi Gizi dalam bungkusnya, dicantumkan bahwa kandungan natrium di dalamnya sudah memenuhi 40-45% kecukupan gizi (dengan asumsi kita butuh 2000 kalori, banyak yang kebutuhannya lebih rendah lho), angka yang cukup tinggi karena natrium dapat dijumpai nyaris di semua bahan makanan serta air minum. Logikanya sih, kalo makan 2 bungkus mie instant berarti kebutuhan natrium sudah terpenuhi. Padahal masakan Indonesia nyaris selalu menggunakan garam (natrium klorida). Tidak menutup kemungkinan tanpa sadar kita akan mengkonsumsi natrium secara berlebih sehingga muncul penyakit hipertensi sebagai efek jangka panjang.

Kandungan natrium yang tinggi tersebut selain karena penggunaan Natrium benzoat sebagai pengawet, juga karena penggunaan MSG (Mono Sodium Glutamat, sodium=natrium) sebagai bumbu penyedap. Mengenai MSG sendiri, kontroversinya lebih dahsyat lagi (kapan2 saya buat ulasannya deh ^^).

Tengok juga bagaimana pola kita mengkonsumsi mie instan, apakah selalu ditambahkan sayur dan telur? Sementara kita membutuhkan asupan protein, lemak, vitamin, serat, dsb yang jelas tidak akan terpenuhi jika kita hanya menyantap mie. It’s OK sekali-kali makan mie instan, tapi menu dengan lauk lengkap plus buah tentu lebih bermanfaat. Ingat juga, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar